Jumat, 18 November 2016

Pendidikan Anak Dalam Kandungan

Foto dari sini
“Maaas...!” teriak Ranti dari kamar mandi. Selanjutnya mulut Ranti sudah tidak bisa dipakai bicara lagi. Dorongan dari perutnya semakin menguat dan tanpa dapat ditahan melepaskan seluruh isi perutnya.
Deni yang sedang mencuci motor di teras segera berlari mendekati dan memijit-mijit tengkuk isterinya.
“Kamu kemana saja? Lama sekali,” keluh Ranti dengan nafas masih tersengal. Keringat bercampur air mata berleleran di dahi dan wajah Ranti.
Melihat kondisi isterinya, Deni memilih tidak banyak bicara. Dibantunya Ranti menyiram lantai kamar mandi. Lalu disodorkan handuk pada isterinya itu.
“Makasih...” ucap Ranti singkat sembari berjingkat meninggalkan kamar mandi.
Sejak dinyatakan positif hamil oleh dokter, hampir tiap pagi Ranti muntah hebat akibat dari gejala morning sickness. Untunglah dalam kondisi seperti itu mereka bisa saling mengerti dan menjaga emosi. Bagi Deni, ketenangan jiwa Ranti mesti dijaga. Deni berharap, Ranti bisa menjalani kehamilannya dengan sehat secara lahir maupun batin. Ranti sendiri bukan tipe penuntut. Ranti tahu, Deni pasti akan berusaha menolongnya sejauh yang dia bisa. Karenanya, Ranti selalu menyampaikan ucapan terima kasih jika Deni membantunya.
Menurut literatur kedokteran, pada akhir bulan pertama kehamilan, janin yang ada di kandungan hanya berukuran sebutir beras. Dan pada bulan ketiga, meskipun ukurannya kurang dari 10 cm, tubuh janin sudah terbentuk lebih lengkap. Bahkan sudah mulai bisa membuka mulut dan mengepalkan tangan.
Jadi pada trisemester pertama ini, jika di luar tubuh sang ibu sampai muntah-muntah, maka di dalam tubuh ibu terus berjalan pembentukan organ-organ tubuh janin secara bertahap. Bahkan di bulan kedua, otak, jantung dan sistem peredaran darah sudah terbentuk hingga di bulan ketiga semuanya sudah beroperasi.
Nah, jika sang ibu mengalami stress pada masa kehamilan, maka tubuh akan memberikan respon siaga untuk melindungi dari ancaman. Organ-organ tubuh pun meningkat aktivitasnya sehingga hormon kortisol yang dihasilkan lebih besar. Hormon kortisol yang tinggi bisa menembus plasenta dan mempengaruhi pertumbuhan otak janin.
Menurut seorang psikolog dari Inggris, tingkat kortisol yang tinggi pada akhir kehamilan ini bisa berpengaruh terhadap fisik dan psikologis anak nantinya. Anak akan rentan terhadap stress, daya tahan tubuh rendah dan mengidap alergi.
Sungguh sangat disayangkan bukan? Jika kita ingin anak yang terlahir itu sehat dan cerdas, namun kenyataannya jika ibu sering stres pada saat hamil maka pertumbuhan otak janin terhambat dan jika sudah lahir anaknya beresiko gampang sakit. Mengetahui kenyataan ini, berarti harus diupayakan supaya kesehatan mental ibu tetap terjaga. Tentu ini menjadi tanggung jawab bersama antara suami dan isteri. Harus diupayakan ada komunikasi supaya bisa saling memahami demi buah hati yang akan terlahir ke dunia.

Foto dari sini
Jika ditarik ke soal pendidikan anak, ternyata mendidik anak itu bukan dimulai ketika anak sudah sekolah. Namun jauh sebelum itu. Dalam Islam, proses pendidikan anak dimulai sejak dari memilih pasangan hidup. Seorang laki-laki harus mencari calon isteri yang bisa diajak bekerjasama saat merawat dan mendidik anak-anaknya nanti.
Jika suami dan isteri memegang konsep rumah tangga secara Islam yaitu suami adalah pemimpin terhadap keluarganya dan isteri adalah pemimpin dalam rumah suaminya, maka berlaku seperti yang tersebut dalam sebuah pepatah arab, ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Sedangkan posisi ayah sebagai kepala sekolah, yang menyediakan fasilitas, memberikan kenyamanan pada sang ibu supaya bisa mendidik anak-anaknya dengan baik.
Itu baru soal pemilihan pasangan hidup. Beranjak ke proses pernikahan,  Islam memberikan pengajaran untuk berdoa sebelum melakukan hubungan intim antara suami isteri. Isi doanya berkaitan dengan kemungkin hadirnya anak karena hubungan itu. Suami isteri mesti berharap anak yang dikaruniakan nantinya menjadi anak yang dijauhkan dari gangguan syaitan.
“Dengan nama Allah. Ya Allah jauhkan kami dari syaitan dan jauhkanlah dari syaitan apa yang akan Engkau karuniakan kepada kami.”
Ketika akhirnya sang isteri mengandung, maka proses mempersiapkan anak shaleh berlanjut. Seperti yang sudah disampaikan di atas, ternyata proses kehamilan seorang ibu tidak mudah. Banyak keluhan yang dirasakan sang ibu yang bisa mengancam kondisi fisik maupun psikis Ibu. Gejala semacam morning sickness itu baru awalnya saja. Semakin bertambah bulan, ibu akan mulai merasa berat di bagian perut sehingga pinggang dan betis sering pegal. Tubuh pun menjadi gampang capek. Semakin mendekati kelahiran, napas mulai terasa sesak. Apalagi jika tidur posisi terlentang. Ditambah lagi intensitas buang air kecil semakin meningkat. Sudah perut berat, bolak-balik lagi ke kamar mandi.
Foto dari sini
Pada trisemester kedua, janin sudah mulai bisa menanggapi rangsangan, terutama bila mendengar suara dari luar. Kemampuan ini bisa dimanfaatkan oleh ayah dan ibu dengan mulai menyapa si kecil sambil mengelus perut ibunya dan membacakan ayat-ayat al qur’an. Janin yang suka diperdengarkan ayat-ayat al qur’an, kelak di masa kanak-kanaknya ia akan lebih mudah menghapal al qur’an. Selain itu, jika perasaan ibunya tenang karena bacaan al qur’an maka anak pun akan tahu bahwa bacaan tersebut bisa menenangkan hatinya juga.
Percayakah Ibu, jika sejak dalam kandungan, ibu bisa membangun kekompakan dengan anak? Di trisemester ketiga, janin sudah bisa melakukan komunikasi interaktif dengan ibunya. Sama seperti ketika bayi sudah lahir. Contohnya,  bayi yang menangis akan terdiam jika diangkat dan dipeluk ibunya. Pada fase ini, janin sudah dapat tersenyum, menangis dan kaget jika menerima suatu perlakuan. Bedanya ketika sudah lahir, kita dapat melihat roman mukanya dan mendengar suaranya. Sedangkan saat di perut, kita tidak tahu kecuali dari gerakan-gerakan sang bayi.
Sehingga meskipun masih dalam kandungan, pada trisemester ketiga ini ibu harus semakin intens melibatkan janin berinteraksi dengan cara membelai, mengajak bicara hingga membacakan cerita. Dari situ bayi akan mengenal ibunya melalui suara. Kenapa di sini saya membahas soal ibunya? Bagaimana dengan ayah? Tentu saja, suara ayah pun penting untuk diperdengarkan supaya ketika sudah lahir, anak tidak kaget dengan suara laki-laki yang cenderung berat.
Kembali ke soal komunikasi interaktif antara janin dan ibu. Ibu yang sudah berhasil membangun komunikasi dengan janin bisa mengajak anaknya bekerja sama dalam proses melahirkan. Terlebih dahulu ibu harus sering bercerita  kepada sang janin bahwa nanti ia bakal lahir ke dunia. Ceritakan hal-hal yang menggembirakan seperti serunya sekolah, cita-citanya di masa depan dan lain-lain.
 Dan ketika saat kelahiran tiba yang ditandai dengan kontraksi, ucapkan pada janin: inilah waktunya... 
Ketika kontraksi masih terasa ringan, katakan pada janin: ayo kita bekerja sama! 
Kontraksi itu ibaratnya janin berkata: Ibu, aku mulai bergerak karena aku ingin keluar. 
Ibu katakan pada janin: ya baiklah,  Ibu akan bantu dengan bersabar, dengan mengatur napas, dengan berzikir, sementara kamu berusaha keluar.
Ketika kontraksi berhenti, katakan pada janin Ibu: OK, kamu butuh istirahat. Kita akan beristirahat dulu sebentar. 
Jika kemudian terjadi kontraksi lagi, maka ibu ucapkan: kamu sudah siap lagi, ayo kita lanjutkan! 
Demikian seterusnya hingga kontraksi semakin kencang. Rasakan oleh ibu pergeseran janin yang semakin merosot ke bawah. Katakan oleh Ibu: ayo semangat, Nak. Kita pasti bisa! 
Nah tentunya dialog-dialog ini hanya ada di hati ibu. Tapi percayalah ibu akan merasakan keajaibannya. Karena antara ibu dan janin sudah tercipta hubungan batin jika sebelumnya sering melakukan dialog interaktif dengan janin. 
Jadi, di sini ibu berperan sebagai penyedia media bagi sang jabang bayi dalam mengeluarkan dirinya dari perut ibu.
Foto dari sini
Intinya ibu harus berfokus pada anak, bukan pada dirinya. Jika ibu berfokus pada diri maka ibu hanya akan merasakan penderitaan. Pada saat kontraksi, Ibu merasa sebagai objek yang diserang secara kontinyu dan disakiti. Tapi jika ibu berfokus pada anak, maka insting ibu sebagai pelindung akan muncul. Sesakit apapun ibu, ia akan bertahan karena anaknya sedang melakukan suatu usaha untuk muncul ke dunia supaya dapat  bertemu muka dengan ibu. Masya Allah...indahnya!

Dalam Al Qur’an, Allah memberikan penjelasan secara terperinci perihal penciptaan manusia ini, seperti yang tersebut dalam Qs.Al Mu’minun: 13-14,
“Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, pencipta yang paling baik.”
Semua yang tertulis di Al Qur’an ini tidak meleset sedikit pun dengan penemuan tentang perkembangan janin menurut ilmu kedokteran. Padahal ayat ini turun sebelum ilmu kedokteran berkembang pesat. Ini membuktikan Allah tahu betul apa yang diciptakannya. Sehingga dalam urusan apapun termasuk soal kehamilan ini, tidak ada tempat kita mengembalikan semua persoalan kecuali kepada Allah. Pun jika kita ingin anak yang kita lahirkan ini sehat sempurna fisik dan akalnya. Berdoalah kepada Allah, tenangkanlah hati ayah bunda karena Allah pasti akan menolong orang yang meminta pada-Nya.
Allah sangat menghargai usaha seorang Ibu saat mengandung anaknya. Disebutkan dalam ayat dan hadits bagaimana beratnya penderitaan seorang ibu dan bagaimana seharusnya perlakuan seorang anak kepada ibunya.
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)...” (Qs.Al Ahqaaf: 15)
Dari Abu Hurairah r.a., beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi saw. menjawab, ‘ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi saw. menjawab, ‘ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi saw. menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah demikian memuliakan seorang ibu yang mengandung, sehingga bagi sang ibu harus menjadi motivasi untuk menjalani kehamilan dengan ikhlas. Mudah-mudahan keikhlasan ini akan melahirkan anak yang shaleh yang kelak dapat berbakti kepada kedua orang tuanya.
Sedangkan bagi sang ayah, meskipun Rasulullah hanya menyebutkan satu kali dibanding penyebutan ibu yang tiga kali, tetap saja ikut memiliki tanggung jawab dengan memberikan nafkah dari rejeki yang halal, mendukung isterinya supaya memelihara kehamilannya dengan baik dan mendorong isteri agar melakukan pendidikan pada janin yang dikandungnya.
Foto dari sini
Di bawah ini akan saya sajikan secara ringkas hal-hal yang bisa dilakukan ayah ibu pada janin:
-          Ayah bisa melakukan rutinitas seperti mengelus dan menyapa janin setiap jam 7.00 pagi saat hendak bekerja. Lama-lama rutinitas ini akan dikenali oleh janin.
-          Ibu merutinkan membaca al qur’an dan artinya biar pun hanya satu lembar setiap hari. Jika sejak awal kehamilan ibu membaca juz 1 dalam satu hari, juz 30 dalam satu hari, dan sisanya satu lembar setiap hari, maka insyaAllah ketika ibu menjelang persalinan dengan kehamilan 9 bulan, ibu sudah khatam al qur'an. Selama ibu mengaji, janin selalu ada di perut ibu, tidak lari kemana-mana, tidak menangis minta diurusin, tetapi siaga mendengarkan ibu mengaji. Berarti jika ibu khatam al qur’an, janin ibu pun ikut khatam pula.
-          Lakukanlah hapalan-hapalan baik ayat alquran, hadits atau doa-doa. InsyaAllah aktivitas menghapal ini akan melatih daya ingat anak yang dikandung. Karena saat kita menghapal, biasanya kita membaca dikeraskan dan kita akan melakukan pengulangan-pengulangan. Nah, pengulangan-pengulangan itu akan merangsang otak bayi sehingga berkembang sekaligus menyerap apa yang ibu hapalkan.

-          Melantunkan doa-doa dan dzikir. Doa sebagai lantunan harapan sang ibu kepada Allah Yang Mahakuasa akan mendidik janin bahwa Allah-lah sumber pengharapan manusia. Sehingga keyakinan kepada Allah sudah ditanamkan oleh ibu kepada anak semenjak dalam kandungan. Zikir-zikir juga membuat hati ibu tenang dan janin merasa nyaman. Kelak jika janin tersebut sudah lahir dan tumbuh besar dia akan merasakan nikmatnya zikir sebagaimana ia dahulu merasa nyaman dalam kandungan ibu.

#blogtobook

18 komentar:

  1. Duh, kok saya malah jadi pengen hamil lagi nih abis baca tulisan di atas......

    BalasHapus
  2. Beberapa kali kehamilan saya sering berjauhan dengan suami. Cukup sulit juga untuk mengelola emosi. Tapi saya berusaha untuk dekat denganNya, agar hati ini tenang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waktu di trisemester pertama, saya merasa suamiku bau :D Jadi kayaknya wajar aja kalau Mba juga pengen jauhan dulu dengan suami hehe...

      Hapus
  3. wah ilmunya bermanfaat, bisa diterapin buat ibu2 muda. klo saya udah anak dua, pengen lagi sich. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi...gampang. Colek-colek aja suaminya Mba haha... *becanda*

      Hapus
  4. banyak pelajaran berharga mampir di sini.. makasih banyak mama Yas:) baru sekali ngerasain ngobrol sama debay di perut. luar biasa udah 6 mba, semoga selalu jadi ibu hebat untuk keluarga, salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga Mba Dewi. Asyik kok ngobrol sama debay :)

      Hapus
  5. Jazakallah ilmunya, Bu. Bermanfaat dan jadi pengen buru-buru diaplikasikan. hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan atuh mau ngasih adik si sulung? :D

      Hapus
  6. Pas banget lagi hamil yang kedua, semoga bisa menerapkan ilmunya dengan baik, makasih sharingnya Mba'.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga lancar kehamilan dan persalinannya ya, Mba :)

      Hapus
  7. Memang penting ya memilih pasangan sejak awal nikah, emang ngaruh ke belakang2 terutama mas depan anak TFS mabk :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mba karena kita pengennya pernikahan adalah untuk seumur hidup kita :)

      Hapus
  8. artikel ini akan jadi referensi bagus buat ibu-ibu muda yang sedang jalani kehamilan. Waktu mau melahirkan dulu ibu saya pesan, bikinnya diem-diem nanti mengeluarkannya juga usahakan banyak diem ya..meski sakit ga usah cakar-cakar suami haha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nasihat yang bagus, Mba hahaha... :)

      Hapus
  9. Oalah, jadi gitu ya yang harus dilakukan pas kontraksi? Makasih Mbak ilmunya, insyaAllah saya pakai untuk nanti pas hamil lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba, itu yang aku praktekin pas melahirkan.

      Hapus

Terima kasih sudah meninggalkan jejak :)