Minggu, 20 November 2016

Cara Menghargai Diri di #UsiaCantik



Masa kehidupan setelah berumah tangga tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh saya. Saya yang biasa dari kecil segala tercukupi, ketika berumah tangga harus memulainya dari nol. Namun Tuhan Maha Adil, energi saya waktu itu masih tinggi. Tidak peduli dengan berbagai keterbatasan, saya selalu berusaha maju, maju dan maju. Dari mulai membantu penghasilan suami dengan jualan kue sampai menulis buku. Bagi saya, selama saya memiliki tenaga dan akal pikiran, semua bisa diusahakan.
Demikian pula soal pendidikan anak. Saya menikah di usia 23 tahun. Setahun kemudian saya dikaruniai seorang putri yang sekarang duduk di bangku kuliah di Teknik Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Dulu waktu putri saya masih kecil, kadang saya suka sedih karena tidak bisa membelikan mainan-mainan edukatif. Namun jika saya hanya bersedih, saya tidak akan berbuat apa-apa. Dari situ saya bangkit dan tersadar. Mestinya keterbatasan ini membuat saya kreatif.
Saya coba mengumpulkan botol plastik bekas untuk dibuat mainan, membuat boneka dari kaus kaki hingga menulis ayat-ayat suci untuk ditempel di dinding sebagai hapalan putri saya. Selain itu, saya usahakan memanfaatkan berbagai media yang ada di sekitar sebagai alat pendidikan. Setiap sabtu, saya ajak putra-putri saya ke perpustakaan umum. Oya, saya pernah kaget ternyata seorang putra saya bisa membaca di usia 3 tahun dimulai dari saya sering mengenalkan merek-merek kendaraan yang lalu-lalang di depan rumah :D
Foto 15 tahun lalu saat dinding penuh tempelan dan menulis ayat suci tulis tangan
 Kini kondisi perekonomian kami jauh lebih baik. Saya tahu, tugas saya belum selesai. Di puncak karirnya, suami malah semakin membutuhkan saya untuk mendampinginya. Tugasnya semakin berat. Hingga sampai di rumah, saya berusaha untuk membuatnya kembali segar dan bersemangat. Demikian pula dengan anak-anak. Prestasinya cukup membanggakan. Baik di sekolahnya hingga tingkat nasional. Namun semakin mereka besar, mereka malah semakin membutuhkan bimbingan juga panutan. Hal itu memotivasi saya untuk hidup sehat dan tampil segar di hadapan keluarga. Ya bagaimana mungkin suami dan anak bakal merasa nyaman, jika wajah saya terlihat kusam dan runyam.
Selama 20 tahun saya melewati manis pahitnya kehidupan. Hal itu membuat pikiran saya semakin terbuka dan jiwa saya tertempa. Berbagai masalah tetap terjadi. Namun berbeda dengan dahulu. Sekarang, saya dapat lebih bijak menghadapi dan tidak terpengaruh situasi. Saya lebih bisa berpikir jernih dan bersikap hati-hati. Sisi spiritual saya pun semakin terasah disebabkan masalah yang menghampiri dan rasa syukur atas karunia yang tiada henti.
Rupanya sikap jiwa saya memancar keluar. Mungkin itu yang disebut orang sebagai inner beauty. Meskipun usia saya kini memasuki #UsiaCantik, banyak orang yang tidak percaya jika saya 40+ dan memiliki anak yang sudah mahasiswi.
Saya tidak merasa lebih dari orang lain. Setiap saya mengenal seseorang, saya selalu terkagum-kagum dengan kelebihan mereka. Namun hal itu bukan berarti saya tidak mensyukuri apa yang saya miliki. Saya sangat mensyukuri apapun yang ada di diri saya termasuk kondisi fisik saya. Di #UsiaCantik, perubahan fisik memang wajar terjadi terutama di area kulit dan wajah. Seperti timbul bintik hitam, kerutan, dan lain-lain. Untuk hal itu, saya senang-senang saja meluangkan waktu merawat diri.  Karena bagi saya, mensikapi #UsiaCantik dengan cara merawat diri, merupakan salah satu bentuk penghargaan atas diri dan kerja kita.

24 komentar:

  1. Wow..prestasi putra-putrinya sangat membanggakan ya, mak..sukses selalu.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Mba, terima kasih ya.

      Hapus
  2. Ada ibu hebat dibalik kesuksesan anak-anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan, Mba. Terima kasih ya sudah berkunjung 😊

      Hapus
  3. Selalu ada usaha keras dari sosok Ibu dibalik kesuksesan sebuah keluarga. Ah, kok ya saya jadi kangen Ibuk saya.

    Semoga keluarganya sehat selalu yaa Mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...terima kasih sudah berkunjung, Mba :)

      Hapus
  4. Seperti padi, semakin beranjak usia justru makin berisi dan makin merunduk ya Mba ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, ibaratnya udah makan asem garem hehe... :)

      Hapus
  5. Subhanallah prestasi anak-anaknya hebat. Ibunya pasti lebih hebat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya justru banyak belajar dari anak-anak, Mba :)

      Hapus
  6. sepakat mb, merawat diri itu penting

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo bukan kita sendiri, siapa lagi ya hehe... :D

      Hapus
  7. menarik sekali waktu membuatkan tempelan dinding untuk menghafal..

    saya pun sekarang juga lg hobi tempel2 nih bun :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makin semangat jika anak ikut antusias, Mba :)

      Hapus
  8. Kalau sudah mensyukuri apa adanya diri kita, rasanya jadi tenang ya, Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mba. Lempeng aja, biarpun dunia gonjang-ganjing haha...

      Hapus
  9. Inspiratif...Dirimu memang keren :)

    BalasHapus
  10. Terharu saya bu, apalagi di bagian yang memulai dari 0 ketika berkeluarga, setia hingga sekarang ya bu.... Semoga kami bisa meneladani contoh baiknya ya bu... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah jalan hidup saya barangkali, Mba. Bersyukur bisa melewatinya :)

      Hapus
  11. Alhamdulillah, bahagia ya ,mba' liat anak-anak udah gede dan berprestasi. Apalagi kalau ingat semuanya berawal dari kreativitas ngajarin banyak hal ke mereka. Jadi Ibu memang tugas mulia.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, rasanya terbayar semua capek-capeknya dulu Mba :)

      Hapus

Terima kasih sudah meninggalkan jejak :)