Selasa, 08 November 2016

Berharap Bisa Membuat Buku Parenting yang Asyik dan Bermanfaat


Menjadi orang tua merupakan salah satu konsekwensi dari pernikahan. Sayangnya banyak orang tua yang terkaget-kaget menghadapi anak justru setelah menjadi orang tua. Sulitnya merawat dan mendidik anak tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh para calon orang tua. Hal ini membuat para orang tua mencari sumber bacaan yang bisa memandu mereka saat mengasuh buah hatinya.

Saya terinspirasi membagikan pengalaman saya dalam mendidik anak dalam bentuk buku bukan berarti saya sudah sangat ahli. Justru banyaknya kendala-kendala yang saya rasakan dan perjuangan mencari solusi inilah yang menginspirasi saya untuk dapat membantu para orang tua. Saya membayangkan buku parenting yang saya tulis ini memiliki gaya penceritaan yang akrab layaknya ngobrol antara sesama ibu atau orang tua. Jadi bukan berisi teori-teori yang kaku.

Oya, saya pernah membaca status sedikit miring yang berkaitan dengan materi parenting ini dari beberapa orang ibu di media sosial. Mereka berpendapat buku parenting membuat kehidupan seorang ibu menjadi penuh tekanan dan tidak bisa mendapatkan kebahagiaan.

Sejenak saya merasa heran. Kok, saya merasa tidak begitu ya? Saya justru merasa buku parenting itu membantu dan memandu saya. Dengan buku parenting itu pula saya menemukan kejelasan dan malah jadi terbebas dari perasaan-perasaan bersalah saat menghadapi anak. Hmm...kenapa ya?

Saya pikir, perbedaan ini mungkin bermula dari sudut pandang kita dalam menyikapi tugas sebagai orang tua. Saya sendiri memandang anak-anak yang terlahir dari rahim saya merupakan sosok-sosok polos yang begitu berharap pada ayah-ibunya. Mereka menyandarkan seluruh kebutuhan materi seperti sandang, pangan, papan hingga non materi seperti pendidikan, perlindungan dan kasih sayang penuh dari orang tuanya. Dari situ timbul pada diri saya perasaan berharga karena merasa dibutuhkan. Perasaan dibutuhkan inilah yang mendorong saya kreatif melakukan yang terbaik bagi anak-anak saya.

Apakah saya tertekan dalam menjalaninnya? Ya, jika saya berharap hasil instan dari apa yang saya lakukan untuk anak-anak saya. Mendidik anak adalah proses membentuk jiwa-jiwa manusia yang masih putih bersih. Kita orang tua diberi kewenangan untuk memberi warna pada mereka seperti yang tersurat pada hadits Nabi Saw.

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”

Maka menjadi orang tua bukan soal tertekan atau bukan tetapi soal tanggung jawab yang mesti disadari penuh bahkan jauh sebelum anak-anak kita lahir ke dunia ini. Jadi, lakukan saja dengan sukarela. Jangan khawatir, kebahagiaan bakal menunggu para orang tua di masa depan karena mendidik anak dan memenuhi hak-hak mereka adalah investasi dunia akhirat bagi orang tuanya.

5 komentar:

  1. Setuju mba. Buku parenting bukan membuat para orang tua tertekan justru sebaliknya, membantu orang tua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya saya juga berpikir begitu, Mba :)

      Hapus
  2. Buku parenting sebaiknya tidak hanya teori, tapi juga praktik. Dan praktik pun harus banyak kasus yang disajikan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Bhai, noted. Terima kasih banyak :)

      Hapus
    2. Sependapat dengan Bang Benny. :-)

      Hapus

Terima kasih sudah meninggalkan jejak :)