Laman

Rabu, 12 Oktober 2016

Ketika Anak Histeris





Foto dari Unsplash
Di sebuah ruang tamu seorang anak sekitar umur 3 tahun histeris, berteriak-teriak di depan ibunya. Dia tidak mau mengerti saat ibunya bilang jajanan yang dia inginkan tidak ada. Kalaupun harus beli, mari menunggu hujan reda. Selama anaknya jerit-jerit, si ibu terus bicara lemah lembut membujuk anaknya.

Saya yang melihatnya benar-benar gemas. Saya bilang, coba Ibu tinggalin dulu anaknya ke dapur. Si ibu nurut. Begitu sadar ibunya pergi, anak langsung mengejar ibunya. Menendang dan menggigit ibunya untuk mencari perhatian.

Melihat kasus ini, saya menilai sikap anak seperti itu bukan baru saja. Dari beberapa kejadian sebelumnya, agaknya anak sudah tahu kalau ibunya bisa dikontrol dengan sikap demikian. Mungkin ketika pertama kali, anak melihat ibunya bersikap reaktif, menunjukan kekhawatiran atau kekagetan atau malah diikuti keinginannya.

Saya berpendapat, ketika anak sudah tidak bisa dikendalikan dengan pembicaraan baik-baik, tidak bisa dialihkan perhatiannya, lebih baik didiamkan. Pasang raut wajah tidak berkenan. Tetap mengawasi tapi tidak menunjukan. Kalau seandainya anak nekad melakukan hal yang menyakiti dirinya, orang tua sigap menolong tanpa mengubah raut wajah.

Saya pernah mengalami ini waktu Ade berusia sekitar 5 tahun. Waktu itu kita sedang di rumah makan padang di daerah Buah Batu. Di rumah makan itu ada warungnya. Kebetulan di warungnya tidak ada yang jaga. Ade teriak-teriak ingin permen.

“Bapak tidak mengerti! Ibu tidak mengerti! Ade kan pengen permen itu!” protes Ade kuat-kuat. Wajahnya mengeras antara marah dan menahan tangis. Para pengunjung langsung melihat ke arah kita.

Suami saya langsung merespon, “Bapak mengerti Ade ingin permen itu. Tapi Ade juga harus mengerti Bapak. Bapak belum tahu cara membeli permen itu. Penjaga warungnya tidak ada. Kita tidak boleh mengambil barang orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya.”

Saya meraih Ade ke pelukan. Ade menangis tersedu-sedu.

“Eh, permen itu kan ada berbagai rasa. Sambil menunggu penjaganya datang, kita cerita yuk tentang permen itu,” saya berusaha mengalihkan perhatian Ade. “Kalau ibu sukanya rasa blueberry. Kalau Ade nanti mau beli rasa apa?”

“Rasa orange.” Ternyata Ade mau merespon pertanyaanku. Artinya emosi dia mulai stabil.

“Oh berarti rasanya asam dong? Memang Ade kuat ya rasa asam?”

“Kuat.”

“Wah hebat dong! Waktu kecil, Ibu juga suka dibeliin permen itu lho oleh Apih (panggilan Ade pada kakeknya). Tapi belinya jauuuh...banget. Jadi nggak bisa sering-sering dibeliin.”

Obrolan terus berlangsung hingga akhirnya penjaga warung datang, alhamdulillah...

Itu Ade yang memiliki kepribadian cukup akomodatif. Berbeda dengan salah seorang kakaknya. Kakak memiliki watak yang keras. Terlihat dalam setiap sikapnya hingga sekarang menginjak kelas 1 SMP. Dulu waktu usia 2,5 tahun disapih, nangisnya sampai terdengar satu gang. Tetangga pada menanyakan kenapa Kakak nangis siang malam sampai lama sekali. Dia bisa guling-guling mulai dari ruang tamu hingga dapur tanpa bisa dibujuk.

Demikian juga, jika Kakak marah. Dia tidak bisa dialihkan sama sekali. Semua bujukan kita, lewat! Kalau sudah begitu, biasanya saya membawa Kakak masuk kamar dan bersama-sama dengannya di kamar hingga acara nangisnya selesai. Dia berhenti menangis karena capek, karena tidak saya pedulikan dan mungkin sudah habis rasa ingin menangisnya. Namun dari situ Kakak sepertinya membuat kesimpulan, bahwa tidak semua yang dia inginkan bisa dipenuhi.

Oya, berbeda lagi dengan keluhan seorang teman yang mengatakan anaknya suka rewel ketika ada tamu. Yang tadinya anak anteng saja, pas ada tamu mendadak minta macam-macam yang tidak masuk akal. Menurut saya itu masalahnya lain lagi. Mungkin anak tidak nyaman saat perhatian ibu teralihkan pada orang lain. Teman saya pun membenarkan. Katanya di rumah memang seringnya cuma ada dia berdua dengan anaknya. Jadi, anaknya tidak terbiasa jika ada orang lain datang ke rumah dan mengambil perhatian sang ibu.

Dari kasus-kasus di atas, yang terpenting bagi kita sebagai orang tua, kenali dulu masalahnya. Kenapa anak berbuat seperti itu. Baru kita menangani sesuai dengan masalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah meninggalkan jejak :)