Kamis, 13 Juli 2017

Infeksi Saluran Kemih Rentan Menyerang Perempuan


Saat anak pertama saya baru lahir, seorang tetangga bilang kalau membersihkan organ intim bayi perempuan itu lebih sulit dibanding dengan bayi laki-laki. Padahal, kurang bersihnya organ intim perempuan dapat menyebabkan penyakit infeksi saluran kemih. Saat itu pula saya tersadarkan bahwa memiliki dan merawat anak perempuan mesti ada penanganan khusus. Begitu pun saat anak-anak perempuan saya memasuki usia kanak-kanak dan remaja. Saya selalu mengingatkan supaya mereka selalu menjaga kebersihan pakaian dalam.
Ketika anak-anak masih bayi, tentu saya sangat memperhatikan kebersihan diapers yang mereka pakai. Begitu volumenya terasa berat, langsung saya ganti. Belum berat juga, kalau sudah dipakai seharian sih ya diganti juga. Soalnya kan khawatir jadi tempat berkembang kuman. Apalagi jika sudah ada pup-nya, jangan sampai deh ditunda lama-lama.
Waktu menginjak masa kanak-kanak, seumuran TK, saya kadang harus cerewet menanyakan ke anak-anak mau buang air kecil atau tidak. Soalnya anak-anak tuh kalau sudah asyik main jadi malas buang air kecil. Mereka menahan air kencing sedapat mungkin sampai akhirnya ada tetesan air kencing yang tidak dapat ditahan membasahi celananya. Dih...padahal itukan jorok. Buat saya, jangankan cairan air kencing, cairan air bekas membersihkan organ intim pun diusahakan jangan sampai membasahi celana dalam. Makanya, saya selalu menyuruh anak-anak mengeringkan dulu organ intim mereka dengan handuk kecil khusus, setelah mereka membasuhnya.
Tidak terasa, anak-anak perempuan saya sekarang sudah menginjak usia remaja. Semuanya sudah rutin mendapat haid. Saya semakin cerewet saja ke mereka soal kebersihan pakaian dalam. Soalnya pakaian dalam yang kotor itu, selain dapat menimbulkan bau yang tidak sedap juga bisa mengundang penyakit seperti keputihan yang tidak normal dan anyang-anyangan atau infeksi saluran kemih tadi.
Untuk keputihan yang tidak normal biasanya berbau, berwarna dan dapat menimbulkan rasa gatal. Salah satu penyebabnya adalah jamur yang berkembang akibat lembabnya daerah organ intim.
Sedangkan infeksi saluran kemih, bisa timbul karena kurangnya kebersihan organ intim yang disebabkan kurang bersih saat membasuh, air membasuh yang tidak bersih, toilet yang tidak bersih dan sering menahan buang air kecil. Menurut penelitian, 80% kasus infeksi saluran kemih itu memang disebabkan oleh bakteri E-Coli yang menempel pada saluran kemih. Dan parahnya lagi, 5 dari 10 wanita pernah mengalami infeksi saluran kemih yang gejala awalnya sering disebut sebagai anyang-anyangan atau rasa ingin buang air kecil terus-menerus namun hanya sedikit yang keluar.
Selain itu, gejala yang sering timbul dari infeksi saluran kemih bisa berupa rasa demam, rasa panas saat buang air kecil, hingga keluar darah bersama air kencing. Menurut para penderita infeksi saluran kemih, rasa sakit di bagian kemih saat mereka buang air kecil sungguh sangat menyiksa. Bagi mereka aktivitas buang air kecil menjadi hal yang menakutkan karena rasa sakitnya itu. Oleh karenanya diusahakan deh kita jangan sampai terkena penyakit ini.
Salah satu cara untuk menghindari dan menyembuhkan penyakit saluran infeksi kemih adalah dengan meminum Prive uri-cran. Prive uri-cran terbuat dari ekstrak cranberry yang bekerja aktif menjaga kesehatan saluran kemih sekaligus membebaskan dari berbagai gangguan penyakit infeksi saluran kemih.
Menurut penelitian, buah cranberry memiliki kandungan Proantocyanidin (PAC) yang dapat mencegah penempelan bakteri E-Coli pada dinding sel epitel saluran kemih, dan membuangnya bersama air kencing. Karenanya di Amerika, penanganan infeksi saluran kemih oleh buah cranberry ini sudah biasa digunakan.
Nah, kita tidak perlu repot-repot mencari buah cranberry karena Prive uri-cran dibuat dalam bentuk kapsul dan serbuk. Kalau saya sih lebih suka yang serbuk karena segar diminum dengan air dingin. Jadi, tunggu apalagi. Segera cari Uricran ke apotik terdekat dan pastikan saluran kemih anda sehat selalu.

Minggu, 18 Juni 2017

Mendampingi Anak Menghadapi SBMPTN



SOAL SBMPTN, PASSING GRADE & PEMINATAN

Setelah nanya-nanya ke anak & suami, bongkar data-data bimbel anak, dan cari-cari bahan di internet, barulah saya berani nulis ini. Tadinya sih mau sederhana saja, cukup nulis pengalaman anak. Tapi setelah dipikir-pikir, kalau seperti itu kok kayaknya cuma ngasih tahu hasil, gak dijabarin dari mana dapetnya. Dan setelah baca-baca di internet, ternyata permasalahannya tidak sederhana juga haha... Tapi tetap saja sih, ntar-ntar di bawah, pastinya ilustrasi tulisan saya lebih banyak pengalaman anak. Jadi belum tentu bisa cocok juga ke semua anak.

Disclaimer saya selanjutnya adalah bahwa tulisan tentang passing grade ini sudah banyak dibahas di internet. Teman bisa googling dengan kata kunci ‘memilih jurusan dengan passing grade’. Karenanya, saya berharap ekspektasi Teman dengan tulisan saya jangan terlalu tinggi. Saya bukan ahli dalam bidang tersebut. Saya hanya baru ‘ngeh’ tentang passing grade, saat Uni, anak kedua saya lolos SBMPTN. Jadi alasan pertama saya nulis ini, saya pengen tasyakur binikmah saja dengan cara berbagi pengalaman. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi Teman yang sama-sama belum tahu seperti saya sebelumnya. Bagi Teman yang sudah tahu, mungkin hal ini sama sekali bukan hal baru. Mohon dimaklum emak jadoel ini yah hehe... Satu lagi, mohon dimaafkan ya jika ada diksi yang dirasa kurang pas. Semoga tidak terlalu mengubah maksud tulisan.

Saat mengurus SBMPTN anak kedua ini, saya sampai mikir, kemana saja saya saat Teteh, anak pertama saya dulu berjuang mengikuti SBMPTN. Kalau mengingat itu, saya merasa bersalah. Jantung saya langsung mencelos. Sehingga alasan kedua dari tulisan ini adalah untuk menebus rasa bersalah saya pada Teteh. Untunglah Teteh tetap lolos SBMPTN di Teknik Kelautan IPB, meskipun tidak mengikuti bimbel menghadapi SBMPTN. Dan mungkin karena tidak ikut bimbel itulah, saya tidak ngeh dengan yang namanya passing grade. Sementara Uni, karena dia ikut bimbel SBMPTN,  saya selalu menerima laporan hasil TO secara periodik (Nanti saya bahas hubungannya dengan passing grade). Nilai TO yang sudah dikonversikan dalam persentase ini menjadi gambaran kemampuan anak dalam mengerjakan soal-soal SBMPTN. Oya saya agak menghindari kata-kata ‘persentase nilai TO menjadi acuan pemilihan presentase passing grade PTN’. Sebabnya, saya bahas kemudian.

Soal-soal SBMPTN terbagi dua bagian yaitu:
TKPA (Tes Kemampuan dan Potensi Akademik), yang terdiri dari soal Tes Kemampuan Verbal, Numerikal, Figural, Matematika Dasar, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
TKD (Tes Kemampuan Dasar) untuk Saintek (Matematika IPA, Kimia, Fisika dan Biologi) dan/atau Soshum (Sejarah, Geografi, Ekonomi, Sosiologi)
Jumlah soal SBMPTN total 150 soal.

Tentang TO
Di bimbel Uni, diselenggarakan TO secara periodik terdiri dari soal mata pelajaran Matematika Dasar (15 soal), Bahasa Indonesia (15 soal), Bahasa Inggris (15 soal), Matematika IPA (10 soal), Biologi (10 soal), Fisika (10 soal), Kimia (10 soal). Totalnya 85 soal. Mengenai jenis, sumber dan tingkat kesulitan soal yang diberikan tiap periodik tentu pihak bimbel yang lebih tahu. Bimbel pasti punya kebijakan-kebijakan tertentu dalam memberikan soal pada siswa. Salah satunya supaya siswa tidak drop di awal, bisa jadi soal-soal yang diberikan di TO awal memiliki tingkat kesulitan yang rendah.

Tentang nilai, mengacu pada skor nilai SBMPTN, maka nilai TO pun dinilai seperti SBMPTN dengan rumus: Benar = 4, Salah = -1, Kosong = 0. Untuk mempermudah anak dan orang tua mengetahui fluktuasi nilai total TO, maka nilai TO ditampilkan dengan persentase.

Rumus:

85 soal X 4 = 340

(Benar X 4) – (Salah X 1)
_________________________ = Persentase
                  340

Contoh hasil total TO Uni di periode 1:
Benar = 57 soal
Salah = 15 soal
Kosong = 13

Penerapan dalam rumus:
(57 X 4) – (15 X1)
_________________  = 62,65 %
        340

Jadi hasil TO Uni di periode 1 adalah 62,65%

Tentang Passing Grade
Menurut pengertian yang saya dapat di internet, passing grade adalah batas nilai minimal yang dipakai sebagai salah satu acuan untuk memilih jurusan di suatu PTN. Nilai dari passing grade biasanya dinyatakan dalam persentase.

Pertanyaannya, nilai minimal siapa, kapan dan dapat dari mana?
Persentase passing grade merupakan nilai minimal dari peserta SBMPTN di jurusan tersebut pada SBMPTN tahun sebelumnya.
Contoh nih,
Menurut bimbelnya Uni, passing grade STEI ITB tahun 2017 yaitu 64,13%. Angka itu merupakan nilai terendah dari siswa yang diterima di STEI ITB pada SBMPTN tahun 2016. Jika kuota STEI tahun 2016 adalah 450 siswa, maka siswa dengan nilai 64,13% itu merupakan urutan ke 450.

Dari manakah muncul persentase nilai passing grade? UNTUK SEMENTARA, ingat rumus nilai TO yang saya bagikan di atas. Benar = 4, Salah = -1, dibagi (4 X jumlah soal).

Kemudian, siapakah yang mengeluarkan nilai passing grade? Nah di sinilah pro kontra tentang passing grade muncul. Passing grade tidak pernah dirilis secara resmi oleh panitia SBMPTN. Bahkan hasil nilai peserta SBMPTN dan hitung-hitungannya tidak pernah dipublikasikan. Makanya saya bilang di atas “UNTUK SEMENTARA”.

Biasanya yang mengeluarkan daftar passing grade adalah lembaga survey independen seperti bimbel. Walaupun ada sih bimbel yang mengklaim punya hubungan dengan “orang dalam” untuk memastikan keakuratan data passing gradenya, wallahu’alam. Nah, karena dikeluarkan oleh pihak yang berbeda-beda, maka hasil passing grade tiap jurusan dalam satu tahun bisa jadi berbeda antara satu lembaga survey dengan lembaga survey lainnya. Haha...jadi inget quick count Pilkada. Bisa beda karena teknik surveynya yang berbeda, bisa juga karena kebijakan tertentu dari bimbelnya. Konon, kata Uni, passing grade di bimbelnya dinaikin 5% dari hasil survey untuk memacu siswa supaya berusaha lebih baik lagi dari standar aslinya.

Hubungan Persentase TO dengan Persentase Passing Grade
SEDERHANANYA, persentase nilai TO anak bisa dijadikan gambaran kasar apakah ia bisa mencapai persentase passing grade jurusan yang diinginkannya?

Contoh, di TO pertama Uni mendapatkan hasil 62, 65%. Padahal passing grade STEI 64,13%. Nah, jika Uni punya keinginan masuk STEI, berarti Uni harus berjuang lebih keras lagi di TO berikutnya supaya persentase nilai TO-nya melebihi persentase passing grade STEI. Dari sini, nilai TO ‘seakan-akan’ gambaran dari kemungkinan masuk atau tidaknya siswa ke jurusan tersebut.

Apakah hal tersebut dibenarkan?
Tidak benar sepenuhnya karena beberapa faktor.
Pertama, seperti saya bilang di atas bahwa nilai peserta SBMPTN tidak pernah dipublikasikan. Jadi dari mana kita tahu pasti nilai SBMPTN terendah siswa STEI 2016 itu 64,13% ?
Kedua, jumlah pendaftar, kemampuan akademis pendaftar dan kuota (daya tampung) jurusan tahun sekarang dengan tahun lalu bisa jadi berbeda. Kalau kebanyakan peserta SBMPTN yang daftar tahun 2017 kemampuan akademisnya lebih tinggi dari peserta tahun 2016, mungkin passing grade 64,13% tidak berarti apa-apa. 64,13% sama sekali tidak menjadi sebuah patokan dapat diterima atau tidaknya di STEI tahun 2017. Termasuk kuota jurusan, mungkin ditambah atau dikurangi tergantung kebijakan PTN masing-masing.
Ketiga, hitung-hitungan nilai SBMPTN juga tidak dipublikasikan. Jadi, rumus yang saya share di atas itu adalah hitungan kasar. Ada yang bilang ‘nilai mentah’. Artinya nilai mentah itu diolah lagi sehingga menghasilkan nilai fix yang menentukan siswa tersebut masuk kuota jurusan yang dipilihnya atau tidak.

Maksudnya diolah bagaimana?
Nah ini yang saya belum tahu persis rumus pastinya gimana. Saya baca-baca di internet ada yang bilang nilai fix itu disebut nilai nasional atau skor nasional. Katanya sih, ((KATANYA)), ada rumus-rumus tertentu yang dapat mengarahkan siswa ke jurusan yang diminatinya sesuai dengan besaran nilai mata pelajaran yang diujikan di SBMPTN (ngerti maksud saya? Jujur, ini bagian yang saya paling ribet ngejelasinnya. Udah mah gak jelas lagi sumbernya wkwkwk...). Mudahnya diilustrasikan ya.

Jadi katanya (katanya, lagi haha), kalau seandainya minat kita, pilihan 1 FMIPA Fisika, pilihan 2 FMIPA Biologi, dan pilihan 3 FMIPA Kimia, maka jika nilai Biologi SBMPTN siswa paling tinggi, kemungkinan dia bakal masuk ke pilihan 2. Begitu... (Fyuh...leganya bisa nulis ini wkwkwk...)
Benarkah? Shahihkah? Wallahu’alam.

Terus kalau seandainya nilai passing grade serba tidak pasti begini, apa gunanya?
Ya meski begitu, lembaga survey pasti punya cara-cara khusus dalam mendapatkannya. Walaupun hasilnya tidak sepenuhnya tepat, minimal mendekati kebenaran. Passing grade dapat dijadikan alat ukur nilai TO siswa namun janganlah mengandalkan sepenuhnya dalam menentukan jurusan yang akan dipilih. Yang harus dilakukan siswa adalah belajar dan terus belajar hingga hasil persentase TO-nya jauh melewati passing grade jurusan yang diminati.
Itu soal passing grade. Cukup sampai disitu saja. Yang kurang paham, silakan tanya di komen. Tapi, bagi yang kepo Uni milih jurusan apa dan apa pertimbangannya, tulisan saya lanjut.

Menentukan Jurusan
Sebagai data, di TO ke-4, Uni dapat nilai 66,18% dan di TO terakhir Uni dapat 69% (sayang yang terakhir dokumennya hilang). 

Sebelum rangkaian sesi TO berlangsung, pihak bimbel minta siswa menyebutkan jurusan yang paling diminatinya. Tujuannya untuk memacu siswa supaya hasil TO bisa terus mendekati hingga melampaui passing grade dari jurusan yang diminatinya tersebut. Jadi pencapaian tiap siswa bukan diadukan dengan siswa lainnya, tapi dengan passing grade. (Eh, saya bukan menjilat ludah sendiri ya dengan menjadikan passing grade alat ukur. Di tulisan bagian ini, cerita baru dimulai dan passing grade hanya alat bantu untuk memacu siswa).

Masalahnya Uni tidak kunjung setor jurusan yang diminatinya ke pihak bimbel. Sampai beberapa kali TO, tetap dia tidak buka mulut. Sedangkan keadaan makin genting (lebay). Apa sih masalahnya? Saya benar-benar tidak mengerti. Akhirnya, saya dan suami memutuskan untuk mengantar Uni ke Psikolog Pendidikan.

Dari psikolog saya dapat hasil bahwa Uni sebenarnya memiliki cita-cita yang sangat besar. Namun di sisi lain dia takut gagal hingga dia tidak berani menentukan jurusan yang diminatinya. Padahal dari test IQ di psikolog tersebut keluar hasil Uni tuh sebetulnya mampu menjangkau cita-cita besarnya. Taraf kecerdasannya tergolong Sangat Superior (IQ>130). Jadi mandeknya dia adalah gara-gara salah cara pandang terhadap keberhasilan dan kegagalan.

Nah, berdasarkan data psikolog itu, saya pun mulai bicara pada Uni. Saya bilang, apa yang buruk dari sebuah kegagalan? Tidak ada, jika kita berpikir positif. Ibu jamin, tidak akan ada yang menyalahkanmu jika kamu gagal. Kegagalan bukanlah suatu kesalahan jika kamu sudah berusaha. Kegagalan bisa jadi merupakan cara Tuhan menghalangi kita dari keburukan di dalamnya. Apapun kamu, kamu tetap anak Ibu.
Dari situ kepercayaan diri Uni muncul dan dia berani menyampaikan jurusan yang diminatinya yaitu STEI ITB.

Mendekati akhir pendaftaran SBMPTN, saya dan suami diundang pihak bimbel untuk mem-fix-kan jurusan-jurusan yang akan dipilih Uni dengan cara melihat grafik fluktuasi nilai TO Uni. Kalau melihat peningkatannya dan hasil TO terakhir Uni yang 69%, sepertinya boleh-boleh saja Uni mengambil pilihan pertama di STEI (ngingetin lagi kalau PG STEI 64,13%). Secara, STEI kan benar-benar cita-cita Uni.

Nah tapi kan, banyak faktor yang bisa menjadikan Uni tidak lolos STEI. Bisa tentang passing grade yang tidak boleh menjadi alat ukur mutlak, dan bisa juga hal-hal teknis. Karenanya menentukan dengan hati-hati jurusan untuk pilihan ke-2 dan ke-3 sangat penting juga. Gabungan antara kemampuan, minat, dan efek psikis jika berhasil atau gagal harus diperhitungkan.

Saya bilang begini, untuk pilihan ke-2 Uni harus memilih yang Uni cukup berminat, kemampuannya ada dan passing gradenya sedikit lebih rendah dari pilihan ke-2. Artinya jika Uni tidak lolos pilihan 1, Uni akan tetap bersyukur, bahagia dan bangga diterima di pilihan 2.

Kenapa selisih passing grade pilihan 2 tidak boleh jauh dari pilihan 1?
Karena jika Uni tidak lolos pilihan 1 hanya karena nilai SBMPTN-nya kurang sedikit untuk masuk STEI, maka Uni tidak merasa terlalu “jatuh”. Tahu dari mana nilai SBMPTN? Kali aja setelah pulang ke rumah atau di bimbel soal-soalnya dibahas, jadi ketahuan kan perkiraan berapa banyak benar dan salahnya.

Berdasarkan hasil psikotes Uni di bimbel, kita bisa melihat kemampuan terbesar Uni itu justru di bidang Biologi. Bahkan pada saat UN, Uni memilih mata pelajaran Biologi karena suka dan mampu lebih di pelajaran tersebut. Kita menawarkan ke Uni, bagaimana kalau pilihan 2-nya Kedokteran Unpad (PG 59,28%). Uni pun setuju.

Pilihan ke-3 nya barulah kita menyarankan Uni mengambil PG yang lumayan jauh lebih rendah supaya jika Uni tidak masuk ke pilihan 2, Uni tetap punya peluang ketampung di PTN. Tapi tetap ya, minat anak harus dikedepankan. Jika tidak minat, khawatirnya kalau sampai diterima, anak akan menjalani kuliah dengan terpaksa. Pilihan ke-3 Uni jatuh di jurusan Teknik Elektro Unpad (PG 41,22%). Entah, Uni kok minat banget ya ke elektro. Padahal Ibu dan Bapak, berdoanya Uni diterima di pilihan ke-2 haha... (cita-cita yang gak kesampaian dilimpahkan ke anak). Untunglah Allah lebih memilihkan Uni ke elektro ya.

Setelah pendaftaran SBMPTN selesai apalagi setelah melewati testnya, saya terus bilang pada Uni supaya dia bertawakal akan hasilnya. Berdoa mumpung bulan ramadhan. Terus membicarakan juga rencana selanjutnya jika seandainya tidak lolos. Kemungkinan sikap mental yang muncul jika seandainya gagal. Bagaiman solusinya, dan seterusnya.

Hari-hari menjelang pengumuman SBMPTN sih kena juga psikis dan fisiknya. Uni cukup sering mengeluh mual dan kembung. Sepertinya zat asam di lambungnya meninggi. Saat saur pun makannya sedikit. Namun syukurlah, keluhan itu berakhir setelah Uni dinyatakan lolos STEI ITB. Alhamdulillah...

Saya mohon maaf jika dalam tulisan ini banyak bilang soal bimbel, karena kenyataannya data yang saya dapat memang dari bimbel. Namun hal itu bukan berarti anak harus bimbel. Justru saya berharap bagi orang tua yang tidak mem-bimbel-kan anaknya, tulisan ini bermanfaat. Teman bisa melakukan perhitungan-perhitungan sendiri di rumah berdasarkan data-data yang saya sampaikan.

Pada akhirnya saya mengucapkan terima kasih bagi Teman-teman yang berkenan membaca tulisan ini hingga akhir. Mohon maaf atas segala kekuarangan. Mudah-mudahan bermanfaat dan menjadi amal jariyah bagi saya di syahru ramadhan ini, aamiin...

Senin, 17 April 2017

Memperlakukan Anak Sebagai Tawanan



Senin pagi tadi saya mulai dengan emosi 'agak' meninggi 😜. Udah cucian numpuk pasca liburan long weekend, mesin cuci macet, eh... PR Abang yang dari kemarin malam terus dibilangin ternyata belum kunjung dikerjakan 😞.
Kemarahan saya berlipat karena untuk kesekian kalinya, Abang tidak pernah bilang atau mengaku ada PR. Jadi, saya tidak akan tahu ada PR jika saja saya atau orang tua temannya tidak bertanya pada Ibu Wali Kelas di grup WA.
Tugasnya hari ini adalah membuat kliping tentang Masalah Sosial di Masyarakat. Ok, untung saja saya berlangganan koran. Saya kasih setumpuk koran ke Abang untuk mencari sendiri. Sementara saya kembali ke dapur menyiapkan bekal Adik.
Apa yang terjadi?
Ternyata Abang malah sedang membaca kolom suplemen komik Yayat Ceking 😧.
Baiklah, rupanya dalam hal ini Abang memang belum bisa dilepas. Akhirnya saya bantu Abang mencari artikel yang dimaksud. Berhasil. Saya perlihatkan ke Abang. Abang setuju, kemudian menggunting sisi artikelnya dan menempelkan di kertas HVS.
Beres, pikir saya sembari membereskan tumpukan koran.
"Jangan dibereskan dulu, Bu," cegah Abang. "Klipingnya harus 5 artikel."
WHAT?!!! 😤
Hah...sudahlah. Daripada marah-marah lebih baik lanjut saja nyari artikel lainnya. Saya pun berhasil menemukan 2 artikel lagi dan Abang menemukan 2 artikel lainnya.
Setelah Abang berangkat sekolah, seperti biasa saya curhat ke suami soal kekesalan saya pagi ini. Obrolan pun mengarah pada ucapan Ali bin Abi Thalib r.a. tentang pendidikan anak.
Saya kutip kembali ucapannya
ya.
Menurut Ali bin Abi Thalib Ra. ada tiga pengelompokkan dalam cara memperlakukan anak:
1. Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja.
2. Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan.
3. Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat.
Untuk kelompok pertama, saya pernah membahasnya DI SINI.
Nah karena saat ini Abang berusia 10 tahun, berarti dia masuk kelompok 2. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, sesungguhnya setiap kejadian itu tidak ada yang sia-sia jika kita beriman pada takdir. Dan takdir itu akan menjadi baik jika kita berserah pada Allah. Saya tersadar, melalui kejadian ini ternyata saya jadi bisa menggali lebih dalam kenapa anak di usia 8 - 14 tahun harus diperlakukan sebagai tawanan.
Mendengar kata ‘tawanan’ lantas saja saya teringat orang yang dipenjara. Kenapa orang tersebut dipenjara? Pasti jawabannya adalah karena dia memiliki kesalahan. Jadi, penjara merupakan hukuman bagi orang yang bersalah. Jujur, saya lebih setuju dengan istilah ‘lembaga pemasyarakatan’ ketimbang kata ‘penjara’. Lembaga pemasyarakatan lebih berkonotasi mendidik dibandingkan dengan menghukum. Orang berbuat kesalahan di masyarakat bisa jadi karena salah didikan. Dia melakukan kesalahan mungkin karena tidak tahu cara menempatkan diri di masyarakat. Oleh karena itu dibutuhkan lembaga untuk memasyarakatkan orang yang belum paham bermasyarakat tersebut. Orang yang berada di dalam kurungan Lembaga Pemasyarakatan harus mendapatkan didikan dan pengawasan secara terus menerus. Apa pun yang mereka lakukan harus dikontrol. Oleh karena itulah mereka ada di dalam lingkungan yang terkurung/tertawan (penjara).
Hihi...belibet gak sih? Terus apa hubungannya dengan bahasan tentang pendidikan anak usia 8-14 tahun versi Ali bin Abi Thalib r.a.?
Oke saya kembali ke kejadian Abang dan PR-nya itu. Sebetulnya jika saya memahami ucapan Ali bin Abi Thalib r.a. yang menyebutkan kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan, pagi itu saya tidak perlu merasa kesal hingga marah-marah. Dari keterangan itu sudah jelas bahwa anak rentang umur sekian memang harus dikontrol. Apa yang dilakukannya harus diawasi. Belum bisa dilepas begitu saja. Menyadari hal itu, aduuh…rasanya saya jadi malu. Mestinya saya berprasangka baik pada mereka dengan cara memahami posisi mereka saat ini.
Saya jadi ingat pada kakaknya yang saat ini menginjak usia 13 tahun. Saya selalu bilang padanya, "Kamu kan sudah SMP! Masa belum mengerti juga?" Saya melihat sikapnya sama! Tugas-tugasnya banyak yang susah kelar. Baik tugas sekolah maupun tugas di rumah. Konsentrasinya dengan enteng teralihkan pada hal-hal lain. Misalnya saja membereskan kamar. Kalau saya hanya menyuruh, tugasnya gak pernah selesai atau tidak kunjung dikerjakan. Tapi kalau saya mengajak bersama membereskan, ternyata dia mau juga.
Ternyata pada dasarnya mereka itu mau dan mampu melakukan tugasnya. Namun karena faktor perkembangan psikologi mereka saat ini, membuat mereka seperti sulit melakukannya. Dan tentu saja mereka butuh bantuan kita sebagai orang tua untuk menjadikan pembiasaan-pembiasaan yang kita tanamkan sebagai sikap hidup mereka. Oleh karenanya, terus didik mereka, pantau, bantu dan beri kepercayaan mereka dengan berprasangka baik. Mudah-mudahan di usia 15 tahun, mereka akan menjadi sahabat atau patner hidup kita dalam mengarungi kehidupan ini.
Hmm...jadi itu ya maksudnya perlakukan anak sebagai tawanan 😂